Aku hanya dapat melihat wajahmu dari layar monitor saja.
Aku hanya dapat menyentuh wajahmu dari layar monitor saja.
Aku pun dapat mencium wajahmu, lagi-lagi hanya lewat layar monitor saja.
Aku mengucapkan beberapa serpihan kata-kata hingga aku menangis dalam heninnya malam.
Jam dinding bersua menghentakan jarumnya.
Suaranya menemani setiap tetes air mata yagn aku hasilkan.
Hhhhhm..hembusan nafasku menjeda tagisan kecilku.
"Aku merindukan orang ini Tuhan, teramat sangat merindukan orang ini"
Aku melanjutkan melihat wajahnya kembali, dan itu tetap lewat layar monitorku.
Tak ubahnya rasa kangen ini menusuk hingga tulang rusukku.
Kembali aku meneteskan air mata lagi.
Mengingat bahwa yang aku rindu ialah orang yang berhasil menyakitiku.
Bahwa orang yang aku rindukan ialah dia yang telah menyia-nyiakan kasih sayang dariku.
Ku usap tetesan air mataku.
"Tuhan aku tau kesempurnaan hanyalah milik Engkau Seorang. Aku hanya meminta kebahagiaan sempurna yang Engkau ridhoi datang padaku sekalipun tak bersamanya"
Aku hapus tetesan air mata yang semakin deras di sela-sela perkataan lirihku.
Apalah daya tangan tak sampai.
Aku masih tetap hanya bisa memandang, mengecup wajahnya, hanya dari layar monitorku saja.

0 komentar:
Posting Komentar