Aku pernah merasakan jatuh cinta yang teramat dalam, orang-orang mendukung sepenuhnya pada hubungan kami.
Tapi hanya satu yang kontra, ialah jarak.
LDR membuat kami berpisah, namun bukan berarti tak ada rasa sayang.
Hanyalah sebuah kejenuhan dan ketidak siapan.
Kami sudah mengenal satu sama lain.
Saling menyentuh.
Saling mengecap rasa masing-masing.
Kami menyebutnya itu "merealisasikan mimpi."
Maksud mimpi adalah angan-angan kita saat difikiran, apalagi yang kami fikirkan saat rindu datang menembus jantung ? Selain ingin semakin terikat saat bertemu.
Dia tak pernah berhenti menyayangiku hingga sekarang.
Aku tau, dia bukan tipe lelaki pembohong buatku.
Dia terlalu jujur, bahkan untuk hal yang harus dia rahasiakan.
Dia bilang, dia akan mengatakan segalanya padaku. Itu memang benar terjadi.
Setiap hari, sekarang, bayangannya berupa fatamorgana bagiku. Terlalu sulit ku jamah.
Lalu siapa yang harus aku salahkan ?
Atlas yang menyimpan batasan tiap negara dengan samudra ?
Perasaan ini yang tumbuh padahal kita berbeda tempat yang teramat jauh ?
Atau Sang Pencipta yang menjauhkan kami berdua ?
Tiada yang benar dan salah, hanyalah keegoisan untuk tetap meremas jemari setiap harinya.
Aku tau sayang itu tetap ada.
Kami tidak buta dan kami memiliki hati.
Aku punya indra pendengaran, perasa, penglihatan yang cukup kuat membuat ku pakai untuk mendengar penuturan cerita tentangnya.
Dia hanya mengeluh tentang jarak, itu saja.
Ingin aku berlari, menggapai fatamorgana dan ku rubah jadi nyata.
Ingin ku berteriak, memanggil namanya agar tetap seperti dulu yang setia mempertahanankan walau ratusan kilometer harus ditempuh.
Ingin aku memeluknya, mendekatkan detak jantungku padanya. Agar dia tau seberapa besar yakin ini untuknya.
Ini bukan hal mudah, ku bilang "kita sudah bukan bingkisan merah jambu lagi, kita sudah menjadi pembuat bingkisannya."
Maksudku, kami bukan lagi anak-anak yang bercinta monyet ria.
Sekarang kami butuh keseriusan. Serius dalam tahap wajar.
Tak ada yang mencoba saling menyakiti, tidak pernah melupakan hal hal menyakitkan sehingga tidak ada lagi yang tersakiti.
Namun kami bukanlah para Malaikat yang tidak diberi hawa nafsu.
Saat rindu ini tak bisa direalisasikan, aku menangis pilu.
Saat rindu ini menyapa, aku tak dapat berbuat apa-apa. Saat rindu tak terealisasikan, aku tak dapat berbuat apa-apa.
Tapi kami yakin, sentuhan skenario Tuhan yang terbaik akan membawa kami bahagia.
Kami, aku dan kamu dalam satu cerita itu akan bahagia.
Meski tak dalam satu takdir, tapi semoga yang terbaik ada pada kami..
Dinda Permatasari, 15 September 2012

