Pages

Sabtu, 15 September 2012

aku dan kamu dalam satu cerita

Aku pernah merasakan jatuh cinta yang teramat dalam, orang-orang mendukung sepenuhnya pada hubungan kami.

Tapi hanya  satu yang kontra, ialah jarak.

LDR membuat kami berpisah, namun bukan berarti tak ada rasa sayang.

Hanyalah sebuah kejenuhan dan ketidak siapan.

Kami sudah mengenal satu sama lain.

Saling menyentuh.

Saling mengecap rasa masing-masing.

Kami menyebutnya itu "merealisasikan mimpi."

Maksud mimpi adalah angan-angan kita saat difikiran, apalagi yang kami fikirkan saat rindu datang menembus jantung ? Selain ingin semakin terikat saat bertemu.

Dia tak pernah berhenti menyayangiku hingga sekarang.

Aku tau, dia bukan tipe lelaki pembohong buatku.

Dia terlalu jujur, bahkan untuk hal yang harus dia rahasiakan.

Dia bilang, dia akan mengatakan segalanya padaku. Itu memang benar terjadi.

Setiap hari, sekarang, bayangannya berupa fatamorgana bagiku. Terlalu sulit ku jamah.

Lalu siapa yang harus aku salahkan ?

Atlas yang menyimpan batasan tiap negara dengan samudra ?

Perasaan ini yang tumbuh padahal kita berbeda tempat yang teramat jauh ?

Atau Sang Pencipta yang menjauhkan kami berdua ?

Tiada yang benar dan salah, hanyalah keegoisan untuk tetap meremas jemari setiap harinya.

Aku tau sayang itu tetap ada.

Kami tidak buta dan kami memiliki hati.

Aku punya indra pendengaran, perasa, penglihatan yang cukup kuat membuat ku pakai untuk mendengar penuturan cerita tentangnya.

Dia hanya mengeluh tentang jarak, itu saja.

Ingin aku berlari, menggapai fatamorgana dan ku rubah jadi nyata.

Ingin ku berteriak, memanggil namanya agar tetap seperti dulu yang setia mempertahanankan walau ratusan kilometer harus ditempuh.

Ingin aku memeluknya, mendekatkan detak jantungku padanya. Agar dia tau seberapa besar yakin ini untuknya.

Ini bukan hal mudah, ku bilang "kita sudah bukan bingkisan merah jambu lagi, kita sudah menjadi pembuat bingkisannya."

Maksudku, kami bukan lagi anak-anak yang bercinta monyet ria.

Sekarang kami butuh keseriusan. Serius dalam tahap wajar.

Tak ada yang mencoba saling menyakiti, tidak pernah melupakan hal hal menyakitkan sehingga tidak ada lagi yang tersakiti.

Namun kami bukanlah para Malaikat yang tidak diberi hawa nafsu.

Saat rindu ini tak bisa direalisasikan, aku menangis pilu.

Saat rindu ini menyapa, aku tak dapat berbuat apa-apa. Saat rindu tak terealisasikan, aku tak dapat berbuat apa-apa.

Tapi kami yakin, sentuhan skenario Tuhan yang terbaik akan membawa kami bahagia.

Kami, aku dan kamu dalam satu cerita itu akan bahagia.

Meski tak dalam satu takdir, tapi semoga yang terbaik ada pada kami..


Dinda Permatasari, 15 September 2012

CEMBURU.

CEMBURU.

Jumat, 14 September 2012

tapi aku bisa menunggu jika ku mau.. part 4

Tak kurasa sudah 1 tahun berlalu aku mengenalnya. Donny Alfrando, lelaki berwajah perpaduan tampan dan tenang. Sangat memperlihatkan ciri bahwa dia keturunan bule.

Hari ini Donny mengajakku untuk canlelight dinner disebuah tempat. Donny tidak memberitahu dimana percis tempat itu. Dia hanya mengatakan, tempat itu indah. Itu saja.

Aku sudah bersiap diri. Menggenakan pakaian yang indah pula. Gaun malam berwarna hitam. Taburan permata disekitar pundak sebelah kiri hingga dada. Rambut keritingku sedikit aku gelung, menyisakan sedikit helai disebelah kanan dan kiri. Aku memakai anting permata yang bunda belikan saat pergi ke Milan. Aku juga tetap memakai kalung huruf inisial T dengan permata disela-selanya. Aku membawa tas kecil, hanya untuk menyimpan handphone, dompet, dan tissue. Sepatu berwarna perak pun aku pilih.

"De, Donny udah nunggu di depan. cepetan ya, kesian nanti dia tunggu lama"

"kita mau kemana sih ?" lagi-lagi aku tanyakan itu pada Doni.

"duduk dan nikmati mata kamu yang tertutup. Aku gak bakal macem-macem atau bawa kamu ke hal negatif deh tasa.."

Malam ini Doni memakai jas berwarna hitam juga. Kemejanya berwarna putih. Kancing jasnya sengaja dibuka. Kancing atas kemejanya terbuka satu. Dia tampan.

Kita sudah sampai, Doni yang bilang. Dia menuntunku berjalan dengan merangkul pundakku dan memegang tangan kananku.

Dia nmenuntunku untuk duduk. melepaskan tanganku. Cukup cemas aku. Dari kejauhan ku dengar suaranya menyuruhku membuka ikatan dikepalaku yang mentutpi bagian mataku. Saat aku membukanya, aku terpkekik kaget melihat pemandangan indah. Ini indah sekali.

"kamu suka tasa ?"

"Donny, ini.."

"ini untuk kamu.."

"terim.." telunjuknya menempel pada bibirku. membuatku berhenti mengakatakan terusan dari 'terimakasih'

"nanti saja, saat akan pulang baru kamu mengucapkan terimakasih"

Saatnya mencicipi makanan buatan para koki di hotel  berbintang lima ini. Aku terkejut saat membuka mata. Aku mendapati cahaya lilin dimana-mana. Ada satu meja ditengahnya. Meja dihiasi oleh hiasan yang simpel namun tetap romantis. Disudut ada para pemain musik. Memainkan alunan musik yang cocok untuk kami berdua.

Makanannya telah kami habiskan. Enak. Aku meminum sisa air putihku. Tiba-tiba Donny meraih tanganku.

"kamu cantik hari ini"

"terimakasih ya.. kita pulang sekarang ?"

"tunggu sebentar, aku ingin mengatakan sesuatu" Tiba-tiba Donny mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya.

"Aku sayang kamu, Tasa. Mungkin inilah yang disebut cinta pertama pada pacar pertama yang selalu teman-teman pamerkan padaku. Akhirnya aku merasakan ini kepadamu"

Aku terkejut mendengar pernyataan itu. Donny menyatakan cinta padaku.

"will you be my girlfriend ?"

Tanpa berfikir ke seratus kali lagi aku menerima Donny, "yes, i will". Aku sangat menyayangi Donny. Teramat merasakan sayang ini.

Donny memasangkan cincin perak yang dipenuhi permata kecil itu dijari manisku. Aku bahagia. Donny mengecup keningku. Memelukku. Aku bisa merasakan jika ini pelukan tulus kasih sayang, bukan nafsu atau permainan. Malam ini begitu Indah, Sangat indah. Donny mengecup bibirku tipis.

14 Februari 2010, Donny Alfrando dan Tasa Audrylya Resmi menjadi sepasang kekasih.

Kamis, 13 September 2012

tapi aku bisa menunggu jika ku mau.. part 3

"kamu.."
Lagi-lagi memang kata itu yang selalu terucap dari salah satu bibir kita saat bertemu, selalu ada hal-hal yang aneh saja.

"kamu lagi apa disini ?" Pertanyaan itu seakan-akan mengingatkanku pada pertama kali kita bertemu, di koridor rumah sakit, 14 Februari lalu.

"aku lagi ambil air nih" Gumamku sambil membereskan pecahan kaca

"sini aku bantu"

"gak usah.. Aaww !" Aku menjerit sakit. Tanganku tertusuk serpihan beling panas itu.

"Tasa ! Tangan kamu kena pecahan beling ? Sini aku obatin"

Lembut sikapnya membuat aku cukup tenang menghadapi rasa terkejut dan sakitku setelah terkena pecahan beling itu. Wajahnya yang tenang mengusap serta... Untuk apa dia menghisap darah yang keluar dari tangan ku ? Bukankah itu perlakuan yang menjijikan untuk orang yang baru beberapa kali bertemu seperti kami ?

"sekarang sudah baikan ?"

"ya.. lumayan.. terimakasih ya"

"sama-sama, lain kali hati-hati ya. By the way, what are you doing here ? Siapa yang sakit ?"

Aku bercerita bahwa sahabatku sedang sakit dan dirawat dirumah sakit ini. Dan dia kesini hanya untuk membeli obat saja. Aku sebenarnya ingin tahu untuk apa dan siapa obat itu dibeli, namun keinginanku tergantikan oleh ajakan dia untuk menengok sahabatku.

Setelah sampai diruangan sahabatku, ku dapati sosoknya sedang tidur pulas. Akan ku bangunkan namun Doni melarangku. Ku kira Doni akan pulang, namun dia berniat menemaniku disini sampai nanti malam saat orang tua Nata yang datang untuk berganti jam tunggu denganku.

Kami cukup mengobrol banyak selagi menunggu Nata tertidur. Dengan nada yang minim, kami bertukar kabar. Saling menceritakan kejadian konyol setelah lama tak bertemu, dan saling bertatap saat sedang bertukar cerita.

3 jam sudah berlalu, kami mulai kelaparan. saat berniat akan pergi keluar mencari makan, tiba-tiba alarm pengingat jadwal Nata meinum obat pun berbunyi.

"Don, kita tunggu dulu ya waktu makannya ? Nata harus makan obat sekarang. Ok ?"

"oke, kamu bangunin temen kamu aja"

Aku membangunkan Nata untuk menyuruhnya minum obat, sekaligus memperkenalkan Doni pada Nata. Akhirnya Nata pun bangun. Sebelum aku memberikan obat kepada Nata, aku memperkenalkan Doni terlebih dahulu pada Nata. Semula Nata mengira Doni itu benar kekasihku. Tapi setelah kita berdua berbicara, Nata pun akhirnya percaya kalau kami baru jadi teman

Setelah meminta izin pada Nata untuk cari makan, aku dan Doni pun bergegas mencari makan ke kantin yang ada dirumah sakit itu. Kantinnya lumayan luas. Makanan yang tersedia pun beragam dan cukup enak serta tidak terlalu mahal. Aku dan Doni cukup membeli nasi goreng dan lemon tea dingin saja. Setidaknya itu memang mengganjel perut kami yang sama-sama sudah lapar.

Saat makanan datang, Doni malah bercanda mengajakku taruhan 'siapa yang paling lama habis makannya, dialah yang harus membayar makanan yang kami pesan'. Doni licik, tentu saja dia yang akan menang ! Secar dia kan lelaki, dan lelaki kan makannya banyak. Akhirnya taruhan itu pun hanyalah candaan yang berlalu.

Setelah selesai makan, aku dan Doni duduk menunggu perut kami kembali normal. Sambil duduk santai, Doni menyanyikan beberapa lirik dari lagu Tulus yang berjudul Teman hidup. Suaranya yang khas membuat aku sedikit terpana mendengar suaranya. Musik atau aluran jazz memang cocok untuknya, dan ternyata dia pecinta musik jazz.

Dia mengambil handphone yang ku taruh didepan tanganku yang sedang mengutak-atik sedotan. Dia mengetik.. Entah mengetik apa.

"Aku harus pulang, Caca sudah bangun dan inginkan aku pulang. Salamkan maaf aku pada temanmu karena tidak pamitan langsung. Kamu hati-hati ya. Kalau butuh apa-apa hubungi aku saja. Bye~"

"Bye~" Dia pun pergi dan meninggalkan handphone ku itudi tempat semula, depan tanganku. Tunggu, dia bilang "Kalau butuh apa-apa hubungi aku saja" berarti dia.. Hahaha ternyata dia menuliskan nomor handphonenya dihandphoneku. Aku menyimpan kontaknya dengan nama 'Donny Alfrando'.

Aku coba mengetik pesan kepadanya. "Hai, terimakasih ya untuk hari ini ! Sudah menemaniku dan mentraktir aku makan. Aku tunggu kamu besok di tempat coffee yang aku ceritakan tadi. Jam satu. Jangan telat sedetikpun. Kalau telat, kau harus mentraktir aku makan lasgna. bye~"

Aku menekan tombol send, terkirimlah pesan itu. Laporannya pun sudah berhasil. Tiba-tiba ada SMS masuk dan itu dari Doni. "sama-sama ! Aku terima tantanganmu. Jam 1 pas esok hari untuk menemui wanita cantik."

Aku senyum tersipu malu membaca SMS darinya. Tak bisa ku pungkiri wajah merah merona itu ada. Aku pun kembali ke ruangan Nata untuk menjaga Nata. Dan tentunya tak sabar menunggu hari esok !

LOVE ME OR LEAVE ME ?!

do you remember me ? like i remember you...

Selasa, 11 September 2012

beberapa saaat mau presentasi laporan, tapi...gue dan temen-temen malah.... *noSignal






SEBENERNYA INI RANDOM GUYS, TAPI.... #lagi2 *noSignal LOL LOL SUPER LOL

Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto saya
hi, my name dinda. i love everything i have ! i'm sweet seventeen.

Followers