Pages

Kamis, 13 September 2012

tapi aku bisa menunggu jika ku mau.. part 3

"kamu.."
Lagi-lagi memang kata itu yang selalu terucap dari salah satu bibir kita saat bertemu, selalu ada hal-hal yang aneh saja.

"kamu lagi apa disini ?" Pertanyaan itu seakan-akan mengingatkanku pada pertama kali kita bertemu, di koridor rumah sakit, 14 Februari lalu.

"aku lagi ambil air nih" Gumamku sambil membereskan pecahan kaca

"sini aku bantu"

"gak usah.. Aaww !" Aku menjerit sakit. Tanganku tertusuk serpihan beling panas itu.

"Tasa ! Tangan kamu kena pecahan beling ? Sini aku obatin"

Lembut sikapnya membuat aku cukup tenang menghadapi rasa terkejut dan sakitku setelah terkena pecahan beling itu. Wajahnya yang tenang mengusap serta... Untuk apa dia menghisap darah yang keluar dari tangan ku ? Bukankah itu perlakuan yang menjijikan untuk orang yang baru beberapa kali bertemu seperti kami ?

"sekarang sudah baikan ?"

"ya.. lumayan.. terimakasih ya"

"sama-sama, lain kali hati-hati ya. By the way, what are you doing here ? Siapa yang sakit ?"

Aku bercerita bahwa sahabatku sedang sakit dan dirawat dirumah sakit ini. Dan dia kesini hanya untuk membeli obat saja. Aku sebenarnya ingin tahu untuk apa dan siapa obat itu dibeli, namun keinginanku tergantikan oleh ajakan dia untuk menengok sahabatku.

Setelah sampai diruangan sahabatku, ku dapati sosoknya sedang tidur pulas. Akan ku bangunkan namun Doni melarangku. Ku kira Doni akan pulang, namun dia berniat menemaniku disini sampai nanti malam saat orang tua Nata yang datang untuk berganti jam tunggu denganku.

Kami cukup mengobrol banyak selagi menunggu Nata tertidur. Dengan nada yang minim, kami bertukar kabar. Saling menceritakan kejadian konyol setelah lama tak bertemu, dan saling bertatap saat sedang bertukar cerita.

3 jam sudah berlalu, kami mulai kelaparan. saat berniat akan pergi keluar mencari makan, tiba-tiba alarm pengingat jadwal Nata meinum obat pun berbunyi.

"Don, kita tunggu dulu ya waktu makannya ? Nata harus makan obat sekarang. Ok ?"

"oke, kamu bangunin temen kamu aja"

Aku membangunkan Nata untuk menyuruhnya minum obat, sekaligus memperkenalkan Doni pada Nata. Akhirnya Nata pun bangun. Sebelum aku memberikan obat kepada Nata, aku memperkenalkan Doni terlebih dahulu pada Nata. Semula Nata mengira Doni itu benar kekasihku. Tapi setelah kita berdua berbicara, Nata pun akhirnya percaya kalau kami baru jadi teman

Setelah meminta izin pada Nata untuk cari makan, aku dan Doni pun bergegas mencari makan ke kantin yang ada dirumah sakit itu. Kantinnya lumayan luas. Makanan yang tersedia pun beragam dan cukup enak serta tidak terlalu mahal. Aku dan Doni cukup membeli nasi goreng dan lemon tea dingin saja. Setidaknya itu memang mengganjel perut kami yang sama-sama sudah lapar.

Saat makanan datang, Doni malah bercanda mengajakku taruhan 'siapa yang paling lama habis makannya, dialah yang harus membayar makanan yang kami pesan'. Doni licik, tentu saja dia yang akan menang ! Secar dia kan lelaki, dan lelaki kan makannya banyak. Akhirnya taruhan itu pun hanyalah candaan yang berlalu.

Setelah selesai makan, aku dan Doni duduk menunggu perut kami kembali normal. Sambil duduk santai, Doni menyanyikan beberapa lirik dari lagu Tulus yang berjudul Teman hidup. Suaranya yang khas membuat aku sedikit terpana mendengar suaranya. Musik atau aluran jazz memang cocok untuknya, dan ternyata dia pecinta musik jazz.

Dia mengambil handphone yang ku taruh didepan tanganku yang sedang mengutak-atik sedotan. Dia mengetik.. Entah mengetik apa.

"Aku harus pulang, Caca sudah bangun dan inginkan aku pulang. Salamkan maaf aku pada temanmu karena tidak pamitan langsung. Kamu hati-hati ya. Kalau butuh apa-apa hubungi aku saja. Bye~"

"Bye~" Dia pun pergi dan meninggalkan handphone ku itudi tempat semula, depan tanganku. Tunggu, dia bilang "Kalau butuh apa-apa hubungi aku saja" berarti dia.. Hahaha ternyata dia menuliskan nomor handphonenya dihandphoneku. Aku menyimpan kontaknya dengan nama 'Donny Alfrando'.

Aku coba mengetik pesan kepadanya. "Hai, terimakasih ya untuk hari ini ! Sudah menemaniku dan mentraktir aku makan. Aku tunggu kamu besok di tempat coffee yang aku ceritakan tadi. Jam satu. Jangan telat sedetikpun. Kalau telat, kau harus mentraktir aku makan lasgna. bye~"

Aku menekan tombol send, terkirimlah pesan itu. Laporannya pun sudah berhasil. Tiba-tiba ada SMS masuk dan itu dari Doni. "sama-sama ! Aku terima tantanganmu. Jam 1 pas esok hari untuk menemui wanita cantik."

Aku senyum tersipu malu membaca SMS darinya. Tak bisa ku pungkiri wajah merah merona itu ada. Aku pun kembali ke ruangan Nata untuk menjaga Nata. Dan tentunya tak sabar menunggu hari esok !

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto saya
hi, my name dinda. i love everything i have ! i'm sweet seventeen.

Followers