BAB I
Dinginnya
malam sangat menusuk hingga menembus lapisan tebal mobil yang Tasa tumpangi. Jalanan
Jakarta memang macet. Padahal acara ulang tahun Shaci 10 menit lagi dimulai.
Apalagi Tasa yang menjadi pembuka acara itu dengan menyanyikan sebuah lagu
sebelum mereka semua harus benar-benar menyanyikan lagu ulang tahun untuk Shaci.
From : Shaci Januarta
Tasaaaaaa, masih dimana? Ya ampun
acara dimulai 10 menit lagi. As soon as
possible ya!
Tasa
tidak sempat membalas pesan dari Shaci, dia sudah memasuki komplek perumahan
sahabatnya itu dan tinggal satu belokan lagi maka sampailah dia dirumah
sahabatnya itu.
“Tasa
akhirnya lo datang juga, ayo cepetan ke taman, orang-orang udah nunggu lo tuh!”
Karina, Sahabat Tasa dan Shaci juga, buru-buru menyuruh Tasa untuk segera pergi
ke taman tempat acara ulang tahun Shaci.
Ditempat
acara itu berlangsung sudah banyak sekali orang-orang yang datang. Maklum,
Shaci seorang anak tunggal yang kaya raya dan memiliki banyak teman.
Beruntunglah mereka yang sudah dicap sebagai sabahat terdekatnya, karena selain
kepopuleran yang mereka raih, kepercayaan dan “simbiosis mutualisme” sangat
benar-benar diperjuangkan dalam persahabatan itu.
“Oke
selamat malam semuanya, Kenalin nama gue Tasa Audrelya, gue disini mau ngehibur
kalian semua dengan lagu-lagu yang semoga bikin kalian nyaman dipesta ulang
tahun Shaci. Oke langsung aja, lagu pertama Good
life”. Tasa memetik gitar akustik itu, sementara Adit memainkan Bass, dan
reva di drum. Mereka memainkan dengan apik. Membuat semua tamu undangan menyatu
dengan musik dan ada beberapa pun dari mereka ikut bernyanyi pelan ataupun
hanya gerakan bibir saja.
Tepat
pukul 9 malam acara puncak itu digelar. Hanya karena 19 tahun yang lalu Shaci
lahir ke dunia fana ini tepat pukul 9 malam maka dia menginginkan setiap
perayaan ulang tahunnya itu digelar pukul 9. Semua lampu dimatikan, yang
menerangi hanyalah cahaya lilin yang disimpan diberbagai penjuru taman dan
lilin dari kue ulang tahun. Tepat pukul 9 Shaci meniup lilin itu. Butuh 2 menit
sebelum meniup lilin Shaci berdiam diri untuk sekedar make a wish.
Akhirnya
acara tiup lilin dan acara potong kue pun selesai. Kini saatnya para tamu
undangan menikmati hidangan yang disediakan spesial dan dimasak oleh koki-koki
pilihan dari restoran milik Adit. Tasa pun kembali bernyanyi, dia dan
kawan-kawan menyanyikan lagu Happy Birthday dari ten2five.
“Shaci,
happy birthday ya. Segalanya yang baik-baik deh buat lo” Reno mengecup lembut
pipi keponakannya itu. Hadiah yang dibungkus besar itu diberikan pada Shaci,
dan Reno bilang bahwa hadiah itu adalah sesuatu yang membuat Shaci teramat
bahagia.
“Ci,
itu siapa?” Tanya Reno pada Shaci sambil menunjuk ke arah panggung.
“Yang
nyanyi? Oh itu namanya Tasa, bang. Dia salah satu sahabat terbaik aku.” Jelas
Shaci singkat.
“Ngomong-ngomong
dia sudah punya pacar atau belum?”
“Belum
kok, dia sudah single sejak empat
bulan yang lalu, nanti aku kenalin deh!”
Akhirnya
acara pun selesai pukul 11 malam. Sebelum para tamu undangan pulang, mereka
disuguhi pesta kembang api yang meriah. Semua sahabat-sahabat Shaci berkumpul
diruang keluarga, katanya ingin ada rapat setelah acara itu selesai. Disana
juga ada Reno.
Reno
memberi kode pada Shaci minta dikenalkan pada sahabatnya yang bernama Tasa.
Maklum saja Reno tidak tahu siapa saja yang berteman seakrab itu dengan Shaci
karena Reno berbeda Negara dengan Shaci dan Reno juga cukup sibuk selama ini.
Tanpa menunggu diberi kode lagi, Shaci langsung mendekati Tasa yang saat itu
sedang sibuk dengan handphone
kesayangannya.
“Sa,
abang gue pengen kenalan gitu deh sama lo. Namanya Reno, dia tinggal di Perancis”
“Cuma
temen doang kan? Yaudah..”
Akhirnya
Shaci pun pergi dari Tasa dan menghampiri Reno. Setelah mereka berdua beberapa
saat berbicara, akhirnya Shaci kembali sambil membawa Reno.
Reno.
Reno Danuarta. Seorang lelaki tampan salah satu mahasiswa fakultas kedokteran
disalah satu universitas ternama di Perancis. Dia sepupunya Shaci. Sudah lima
tahun Reno tinggal di Perancis. Setidaknya itu saja sudah cukup untuk
perkenalan Reno dan Tasa. Mereka tidak terlalu banyak berbincang-bincang. Hanya
seputar perkenalan biasa.
Malam
menunjukan pukul 12:15. Tasa dan sahabat Shaci yang lainnya bergegas pulang. Mereka
tidak ingin mengantuk dijalan. Setelah Shaci dan orang tuanya mengantarkan sahabat-sahabat
Shaci sampai depan, Reno menghampiri Shaci sambil senyum-senyum.
“Kenapa
lo bang? Girang amat.”
“Tasa,
baik ya, dia kelihatannya cerdas. Gue suka sama dia.”

0 komentar:
Posting Komentar