Pages

Sabtu, 10 November 2012

BAB I

BAB I

Dinginnya malam sangat menusuk hingga menembus lapisan tebal mobil yang Tasa tumpangi. Jalanan Jakarta memang macet. Padahal acara ulang tahun Shaci 10 menit lagi dimulai. Apalagi Tasa yang menjadi pembuka acara itu dengan menyanyikan sebuah lagu sebelum mereka semua harus benar-benar menyanyikan lagu ulang tahun untuk Shaci.

From : Shaci Januarta
Tasaaaaaa, masih dimana? Ya ampun acara dimulai 10 menit lagi. As soon as possible ya!

Tasa tidak sempat membalas pesan dari Shaci, dia sudah memasuki komplek perumahan sahabatnya itu dan tinggal satu belokan lagi maka sampailah dia dirumah sahabatnya itu.

“Tasa akhirnya lo datang juga, ayo cepetan ke taman, orang-orang udah nunggu lo tuh!” Karina, Sahabat Tasa dan Shaci juga, buru-buru menyuruh Tasa untuk segera pergi ke taman tempat acara ulang tahun Shaci.

Ditempat acara itu berlangsung sudah banyak sekali orang-orang yang datang. Maklum, Shaci seorang anak tunggal yang kaya raya dan memiliki banyak teman. Beruntunglah mereka yang sudah dicap sebagai sabahat terdekatnya, karena selain kepopuleran yang mereka raih, kepercayaan dan “simbiosis mutualisme” sangat benar-benar diperjuangkan dalam persahabatan itu.

“Oke selamat malam semuanya, Kenalin nama gue Tasa Audrelya, gue disini mau ngehibur kalian semua dengan lagu-lagu yang semoga bikin kalian nyaman dipesta ulang tahun Shaci. Oke langsung aja, lagu pertama Good life”. Tasa memetik gitar akustik itu, sementara Adit memainkan Bass, dan reva di drum. Mereka memainkan dengan apik. Membuat semua tamu undangan menyatu dengan musik dan ada beberapa pun dari mereka ikut bernyanyi pelan ataupun hanya gerakan bibir saja.

Tepat pukul 9 malam acara puncak itu digelar. Hanya karena 19 tahun yang lalu Shaci lahir ke dunia fana ini tepat pukul 9 malam maka dia menginginkan setiap perayaan ulang tahunnya itu digelar pukul 9. Semua lampu dimatikan, yang menerangi hanyalah cahaya lilin yang disimpan diberbagai penjuru taman dan lilin dari kue ulang tahun. Tepat pukul 9 Shaci meniup lilin itu. Butuh 2 menit sebelum meniup lilin Shaci berdiam diri untuk sekedar make a wish.

Akhirnya acara tiup lilin dan acara potong kue pun selesai. Kini saatnya para tamu undangan menikmati hidangan yang disediakan spesial dan dimasak oleh koki-koki pilihan dari restoran milik Adit. Tasa pun kembali bernyanyi, dia dan kawan-kawan menyanyikan lagu Happy Birthday dari ten2five.

“Shaci, happy birthday ya. Segalanya yang baik-baik deh buat lo” Reno mengecup lembut pipi keponakannya itu. Hadiah yang dibungkus besar itu diberikan pada Shaci, dan Reno bilang bahwa hadiah itu adalah sesuatu yang membuat Shaci teramat bahagia.

“Ci, itu siapa?” Tanya Reno pada Shaci sambil menunjuk ke arah panggung.

“Yang nyanyi? Oh itu namanya Tasa, bang. Dia salah satu sahabat terbaik aku.” Jelas Shaci singkat.

“Ngomong-ngomong dia sudah punya pacar atau belum?”

“Belum kok, dia sudah single sejak empat bulan yang lalu, nanti aku kenalin deh!”

Akhirnya acara pun selesai pukul 11 malam. Sebelum para tamu undangan pulang, mereka disuguhi pesta kembang api yang meriah. Semua sahabat-sahabat Shaci berkumpul diruang keluarga, katanya ingin ada rapat setelah acara itu selesai. Disana juga ada Reno.

Reno memberi kode pada Shaci minta dikenalkan pada sahabatnya yang bernama Tasa. Maklum saja Reno tidak tahu siapa saja yang berteman seakrab itu dengan Shaci karena Reno berbeda Negara dengan Shaci dan Reno juga cukup sibuk selama ini. Tanpa menunggu diberi kode lagi, Shaci langsung mendekati Tasa yang saat itu sedang sibuk dengan handphone kesayangannya.

“Sa, abang gue pengen kenalan gitu deh sama lo. Namanya Reno, dia tinggal di Perancis”

“Cuma temen doang kan? Yaudah..”

Akhirnya Shaci pun pergi dari Tasa dan menghampiri Reno. Setelah mereka berdua beberapa saat berbicara, akhirnya Shaci kembali sambil membawa Reno.

Reno. Reno Danuarta. Seorang lelaki tampan salah satu mahasiswa fakultas kedokteran disalah satu universitas ternama di Perancis. Dia sepupunya Shaci. Sudah lima tahun Reno tinggal di Perancis. Setidaknya itu saja sudah cukup untuk perkenalan Reno dan Tasa. Mereka tidak terlalu banyak berbincang-bincang. Hanya seputar perkenalan biasa.

Malam menunjukan pukul 12:15. Tasa dan sahabat Shaci yang lainnya bergegas pulang. Mereka tidak ingin mengantuk dijalan. Setelah Shaci dan orang tuanya mengantarkan sahabat-sahabat Shaci sampai depan, Reno menghampiri Shaci sambil senyum-senyum.

“Kenapa lo bang? Girang amat.”

“Tasa, baik ya, dia kelihatannya cerdas. Gue suka sama dia.”

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto saya
hi, my name dinda. i love everything i have ! i'm sweet seventeen.

Followers